Oleh: Edi Arsadad S.H [Pemred Radar24]
Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day seharusnya menjadi momen refleksi sekaligus perlawanan. Ini adalah hari di mana kaum pekerja turun ke jalan, bersuara lantang menuntut hak, menolak eksploitasi, dan mengawal keadilan sosial. Namun, apa yang kita saksikan belakangan ini justru semakin memprihatinkan. May Day perlahan berubah wajah, dari arena orasi dan tuntutan menjadi seremonial yang manis namun kosong makna.
Salah satu fenomena yang paling mencolok adalah maraknya perayaan May Day dengan embel-embel pembagian sembako, nasi kotak, hingga doorprize. Di satu sisi, ini terlihat baik, humanis, dan peduli. Namun jika ditelisik lebih dalam, ini adalah bentuk pembungkaman suara secara halus. Ini adalah cara paling cerdik untuk melumpuhkan daya kritis buruh, mengganti amarah dengan rasa syukur, dan menukar tuntutan dengan sebungkus nasi.
Ketika buruh datang ke lokasi aksi bukan lagi karena semangat persatuan untuk menuntut kenaikan upah atau penolakan PHK, melainkan karena “dijanjikan” ada beras, minyak goreng, atau uang saku, maka semangat perjuangannya sudah mati.
Mereka yang seharusnya berdiri tegak menatap penguasa, kini sibuk mengantre dan berterima kasih. Suara yang seharusnya menggema menuntut hak, kini berganti menjadi ucapan syukur atas pemberian. Ini adalah manipulasi psikologis yang sangat efektif. Rasa berhutang budi karena menerima “bantuan” membuat mereka enggan atau sungkan untuk bersikap kritis.
Bagaimana mungkin seseorang bisa berorasi keras menuntut keadilan, jika di tangannya baru saja menerima karung beras dari tangan yang sama yang ia hendak kritik?
Praktik ini bukanlah kebetulan, melainkan sebuah strategi. Ini adalah cara sistem untuk menetralkan oposisi. Dengan membagi-bagikan materi, penguasa atau pihak tertentu seolah berkata: “Tenang saja, kami sudah memberi kalian makan, jadi jangan ribut-ribut.”
May Day yang seharusnya menjadi tekanan publik agar kebijakan diperbaiki, berubah menjadi ajang silaturahmi dan seremonial belaka. Isu-isu krusial seperti sistem outsourcing yang merugikan, upah minimum yang tidak naik, ancaman PHK massal, hingga buruknya jaminan sosial, perlahan tertutup oleh aroma nasi kotak dan kemasan sembako.
Buruh dibuat sibuk memikirkan apa yang didapat hari ini, melupakan apa yang menjadi hak mereka untuk masa depan.
Tidak ada yang salah dengan membantu sesama atau membagikan bantuan. Namun, ada garis tipis yang sangat jelas antara kepedulian sosial dan politik transaksional.
Jika bantuan itu diberikan tanpa syarat dan di luar konteks aksi, itu adalah solidaritas. Tapi jika bantuan itu diberikan tepat di momen May Day sebagai “syarat” kehadiran atau untuk meredam tuntutan, itu adalah pembelian martabat.
Saudara-saudara kaum buruh, nasi kotak dan sembako itu hanya akan bertahan beberapa hari. Namun, hak-hak yang tidak diperjuangkan, aturan yang merugikan, dan ketidakadilan yang dibiarkan, akan menindas kalian bertahun-tahun lamanya.
Jangan biarkan May Day yang mulia ini hanya menjadi ajang pesta demografi yang dikendalikan. Jangan biarkan perjuangan kelas dibeli dengan harga semurah itu.
Ingatlah, May Day bukan tentang apa yang kita terima, tapi tentang apa yang kita perjuangkan.



