RADAR24.co.id — Di sejumlah stasiun lintas Rangkasbitung–Merak, hari sering dimulai sebelum matahari terbit. Para petani dan pedagang datang sambil memanggul karung hasil panen yang akan dibawa ke pasar. Ada cabai, bawang, tomat, hingga berbagai sayuran yang dipetik dari kebun sehari sebelumnya agar tetap segar saat tiba di tujuan.
Kereta api yang melintas di jalur tersebut kini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Bersama perjalanan itu, hasil panen ikut bergerak menuju pasar, membawa harapan agar dagangan cepat terjual dan penghasilan yang dibawa pulang dapat membantu kebutuhan keluarga, mulai dari biaya sekolah anak, belanja dapur, hingga menjaga usaha kecil mereka tetap berjalan dari hari ke hari.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat selama periode 1 Januari hingga 11 Mei 2026, layanan Kereta Petani dan Pedagang telah melayani sebanyak 17.867 pelanggan di lintas Merak–Rangkasbitung.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan layanan ini menjadi salah satu upaya menghadirkan transportasi yang dekat dengan kebutuhan masyarakat kecil, terutama petani dan pedagang pasar tradisional.
“Bagi petani dan pedagang kecil, selisih ongkos perjalanan sangat berarti. Saat biaya distribusi lebih ringan, mereka dapat membawa hasil panen lebih banyak, menjaga usaha tetap berjalan, dan mempertahankan penghasilan untuk keluarga,” ujar Anne.
Kereta Petani dan Pedagang mulai beroperasi sejak 1 Desember 2025 dengan tarif Rp3.000 per perjalanan melalui skema Public Service Obligation (PSO). Kebijakan tersebut membantu masyarakat memperoleh akses transportasi yang terjangkau untuk mendukung aktivitas ekonomi sehari-hari.
Kereta ini melayani rute Merak–Rangkasbitung pulang pergi setiap hari dengan total 14 perjalanan, terdiri dari 7 perjalanan dari Merak dan 7 perjalanan dari Rangkasbitung.
Menurut Anne, keberadaan layanan tersebut ikut membantu mempercepat distribusi komoditas pertanian menuju pasar sehingga hasil panen dapat tiba dalam kondisi lebih segar dan memiliki nilai jual yang lebih baik.
“Ketika distribusi pangan berjalan lancar, manfaatnya dirasakan banyak pihak. Petani terbantu membawa hasil kebun, pedagang lebih mudah menjaga pasokan dagangan, dan masyarakat mendapatkan bahan pangan yang lebih segar di pasar,” jelas Anne.
Untuk menggunakan layanan ini, petani dan pedagang melakukan registrasi di loket stasiun menggunakan KTP guna memperoleh kartu khusus pelanggan.
KAI juga menyesuaikan fasilitas kereta dengan kebutuhan pelanggan yang membawa hasil pertanian dan barang dagangan. Kereta dilengkapi tempat duduk menyamping berkapasitas 73 pelanggan, pintu lebih lebar, serta ruang penyimpanan barang bawaan agar proses naik turun menjadi lebih mudah.
Anne menambahkan bahwa layanan tersebut menunjukkan bagaimana transportasi publik dapat terhubung langsung dengan kehidupan masyarakat sehari-hari, mulai dari aktivitas pertanian hingga perputaran ekonomi pasar tradisional.
“Di setiap perjalanan kereta ini ada hasil panen yang dirawat dengan kerja keras selama berbulan-bulan. Ada pedagang yang berangkat dini hari demi menjaga usahanya tetap hidup. Saat perjalanan menjadi lebih ringan dan distribusi semakin lancar, masyarakat dapat merasakan manfaat yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari,” tutup Anne.



