RADAR24.co.id — Pelantikan Pengurus Keluarga Ureung Pidie (KUPI) periode 2026–2030 di bawah kepemimpinan Dr. H. Asfifuddin, S.H., M.H. tidak sekadar menjadi agenda organisasi, tetapi dapat menjadi momentum memperkuat persatuan, kemandirian, dan kontribusi masyarakat dalam membangun Aceh.

KUPI memiliki posisi strategis karena menghimpun masyarakat Pidie dengan beragam latar belakang, profesi, pengalaman, dan jejaring. Potensi tersebut dinilai dapat menjadi kekuatan sosial untuk mendorong pembangunan daerah sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam menentukan arah masa depan Aceh.

Dalam pesan pelantikannya, Dr. H. Asfifuddin S.H., M.H menegaskan bahwa kepengurusan KUPI harus diisi oleh orang-orang yang beriman, berilmu, beramal dan bertakwa, dengan semangat menjalin silaturahmi, bergotong royong serta menggalang persatuan dan kesatuan dalam bingkai kekeluargaan.

“Berikan pemikiran yang terbaik dan konsep strategis, sekaligus mengupayakan solusi terhadap permasalahan di mana saudara tinggal, dan secara umum di Kabupaten Pidie dan Provinsi Aceh,” pesan Dr. H. Asfifuddin S.H., M.H.

Pesan tersebut menempatkan KUPI bukan hanya sebagai wadah silaturahmi, tetapi sebagai ruang konsolidasi sosial yang dapat mempertemukan gagasan dan kekuatan masyarakat Pidie untuk kepentingan daerah.

Dalam konteks kedaulatan Aceh, kekuatan masyarakat tidak hanya berbicara mengenai kewenangan pemerintahan, tetapi juga kemampuan daerah membangun sumber daya manusia, memperkuat ekonomi masyarakat, menjaga identitas dan kebudayaan, serta mengelola potensi daerah untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat.

Karena itu, KUPI diharapkan mampu mengambil peran konstruktif dengan membangun jejaring antara masyarakat, pemerintah, akademisi, dunia usaha, tokoh masyarakat, dan generasi muda.

Kedaulatan daerah pada akhirnya harus memiliki wajah kesejahteraan. Persatuan harus melahirkan kekuatan ekonomi, pendidikan harus melahirkan sumber daya manusia unggul, dan potensi Aceh harus mampu memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.

Dr. H. Asfifuddin S.H M.H juga menekankan pentingnya semangat saling membantu dalam bingkai ukhuwah Islamiyah. Menurutnya, kehadiran setiap pengurus merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan sekadar posisi dalam struktur organisasi.

Dengan masa bakti hingga 2030, KUPI memiliki kesempatan membangun agenda jangka panjang yang lebih konkret, termasuk penguatan sumber daya manusia, pemberdayaan ekonomi, kepemudaan, sosial kemasyarakatan, serta pengembangan jejaring putra-putri Pidie di tingkat nasional.

Pelantikan ini pun menjadi awal dari sebuah komitmen: bahwa kekuatan ureung Pidie harus menjadi bagian dari kekuatan Aceh.

Jika KUPI mampu menjaga persatuan sekaligus mengubah jejaring menjadi kolaborasi dan gagasan menjadi program nyata, maka organisasi tersebut tidak hanya merawat identitas kekeluargaan, tetapi juga dapat mengambil bagian dalam membangun Aceh yang lebih mandiri, bermartabat, dan berdaya saing.

Dari Pidie untuk Aceh, dari persatuan menuju kemandirian, dan dari kemandirian menuju kesejahteraan.