RADAR24.co.id — Sejumlah penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Batu Ketulis, Lampung Barat, dilaporkan mengalami keluhan kesehatan berupa diare dan muntah setelah mengonsumsi makanan yang didistribusikan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Batu Ketulis.

Belum ada kesimpulan bahwa keluhan tersebut disebabkan oleh makanan MBG. Namun, munculnya keluhan kesehatan dalam waktu berdekatan dengan distribusi makanan MBG membuat persoalan ini perlu ditelusuri secara serius, terutama menyangkut standar keamanan pangan dan pengawasan terhadap SPPG sebagai penyedia makanan bagi masyarakat.

Pihak pengelola kini memilih langkah penghentian sementara operasional SPPG Batu Ketulis sembari menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang telah diambil pada 18 September 2026.

Koordinator SPPI wilayah Lampung Barat, Septa, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Satgas MBG dan Puskesmas Batu Ketulis untuk menindaklanjuti informasi mengenai keluhan kesehatan yang dialami sejumlah penerima manfaat.

“Kami sudah berkoordinasi dengan tim Satgas dan tim Puskesmas. Saat ini masih menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan MBG pada 18 September 2026,” ujar Septa.

SPPG Dihentikan Sementara, Apa yang Sedang Diperiksa?

Keputusan menghentikan sementara operasional SPPG menjadi perhatian karena langkah tersebut menunjukkan bahwa persoalan ini tidak sekadar dianggap sebagai keluhan biasa.

Septa menyampaikan bahwa Kepala SPPG bersama tim telah turun langsung ke lapangan bersama Satgas MBG Lampung Barat untuk melakukan penanganan dan menindaklanjuti informasi yang diterima.

Menurutnya, laporan mengenai dugaan gangguan pencernaan tersebut juga telah disampaikan kepada KPPG Bandar Lampung dan Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional (BGN) RI.

“Saya selaku Koordinator SPPI wilayah Lampung Barat sudah melaporkan adanya kejadian dugaan gangguan pencernaan terhadap penerima manfaat MBG di wilayah Batu Ketulis kepada KPPG Bandar Lampung dan Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN RI,” jelasnya.

Septa mengatakan, berdasarkan arahan pimpinan, operasional SPPG Batu Ketulis dihentikan sementara sampai adanya arahan lebih lanjut.

“Arahan pimpinan, SPPG berhenti operasional sampai waktu yang belum bisa ditentukan. Surat suspend segera kami kirimkan kepada pihak SPPG dari Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan,” kata Septa.

Penghentian sementara tersebut sekaligus menempatkan hasil pemeriksaan laboratorium sebagai bagian penting untuk menentukan langkah berikutnya.

Puskesmas Catat Peningkatan Pasien Diare dan Muntah

Dari sisi pelayanan kesehatan, Kepala Puskesmas Batu Ketulis, Martalena, SST, membenarkan adanya peningkatan pasien dengan keluhan diare dan muntah.

Namun, pihak Puskesmas belum dapat memastikan penyebab keluhan tersebut.

“Maaf Pak, kami hanya menerima pasien diare dan muntah yang meningkat kemarin. Untuk kasus keracunan atau bukan, kami belum bisa memastikan karena harus melalui hasil pemeriksaan dari Labkesda,” jelas Martalena.

Ia menyampaikan, pasien yang sempat mendapatkan perawatan di Puskesmas telah diperbolehkan pulang.

“Semua yang dirawat sudah pulang. Memang ada yang sampai diinfus, tetapi sudah pulang semua, Pak,” ujarnya.

Fakta tersebut menunjukkan adanya peningkatan keluhan kesehatan yang memerlukan penanganan medis. Namun, secara medis maupun berdasarkan pemeriksaan laboratorium, belum terdapat dasar untuk menyatakan bahwa keluhan tersebut merupakan keracunan makanan akibat konsumsi MBG.

Bukan Sekadar Soal Keracunan, Pengawasan MBG Ikut Dipertaruhkan

Kasus ini tidak hanya menyangkut pertanyaan apakah makanan MBG menyebabkan diare dan muntah. Lebih jauh, peristiwa tersebut membuka pertanyaan mengenai bagaimana pengawasan terhadap proses penyediaan dan distribusi makanan bergizi bagi penerima manfaat dilakukan.

Program MBG menyasar masyarakat, termasuk anak-anak sebagai salah satu kelompok penerima manfaat. Karena itu, aspek keamanan makanan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberhasilan program.

Apabila hasil laboratorium nantinya menunjukkan adanya kontaminasi atau persoalan pada makanan, maka pemeriksaan tidak cukup berhenti pada makanan yang telah dikonsumsi. Rantai prosesnya perlu ditelusuri, mulai dari bahan baku, pengolahan, kebersihan dapur, penyimpanan, pengemasan, hingga distribusi makanan kepada penerima manfaat.

Sebaliknya, apabila hasil pemeriksaan menunjukkan makanan MBG tidak berkaitan dengan keluhan tersebut, informasi tersebut juga penting disampaikan secara terbuka agar tidak muncul kesimpulan sepihak di tengah masyarakat.

Dengan demikian, hasil laboratorium memiliki dua fungsi penting: memastikan penyebab keluhan kesehatan sekaligus memberikan kepastian kepada masyarakat mengenai keamanan makanan yang diproduksi SPPG Batu Ketulis.

Publik Menunggu Hasil Pemeriksaan

Sampai saat ini, penyebab pasti meningkatnya keluhan diare dan muntah tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

Karena itu, dugaan gangguan kesehatan setelah konsumsi makanan MBG tidak dapat serta-merta disebut sebagai kasus keracunan akibat MBG sebelum terdapat hasil pemeriksaan yang mendukung.

Namun, penghentian sementara operasional SPPG menunjukkan bahwa persoalan tersebut dipandang cukup serius untuk ditindaklanjuti melalui pemeriksaan dan pengawasan lebih lanjut.

Yang juga menjadi perhatian adalah keterbukaan hasil pemeriksaan. Masyarakat yang menerima makanan melalui program MBG berhak memperoleh informasi yang jelas mengenai keamanan makanan yang mereka konsumsi, terlebih ketika muncul keluhan kesehatan secara bersamaan.

Hingga berita ini ditayangkan, pihak SPPG Batu Ketulis belum memberikan keterangan langsung mengenai persoalan tersebut.

Kini, publik menunggu hasil pemeriksaan laboratorium: apa sebenarnya penyebab diare dan muntah yang dialami sejumlah warga, apakah berkaitan dengan makanan MBG atau terdapat faktor lain?

Jawaban atas pertanyaan tersebut bukan hanya penting untuk memastikan penyebab kejadian di Batu Ketulis, tetapi juga menjadi bahan evaluasi terhadap pengawasan dan standar keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG di Lampung Barat.