JAKARTA – Kabar perombakan kabinet atau reshuffle kembali mencuat pada Senin (27/4/2026). Salah satu nama yang disebut-sebut akan dilantik menjadi menteri adalah Mohammad Jumhur Hidayat, Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) . Langkah ini dinilai banyak pihak sebagai upaya pemerintah untuk meredam potensi aksi demonstrasi dalam peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day yang akan jatuh pada 1 Mei mendatang.

Kabar pelantikan Jumhur Hidayat diungkapkan langsung oleh Presiden KSPSI, Andi Gani Nena Wea. Ia membenarkan bahwa informasi tersebut sudah diketahui sejak pekan lalu dan pelantikan direncanakan berlangsung pada sore hari ini di Istana Kepresidenan Jakarta .

“Betul. (Saya) sudah tahu sejak minggu lalu,” ujar Andi Gani saat dikonfirmasi sejumlah media .

Mengenai posisi yang akan diisi, Andi Gani menyebutkan kemungkinan Jumhur akan menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup atau Menteri Perhubungan, meskipun belum ada kepastian resmi .

Bagi kalangan serikat pekerja, masuknya figur buruh ke dalam kabinet dianggap sebagai momentum penting yang membuka ruang lebih besar bagi aspirasi pekerja di tingkat pemerintahan. Namun, langkah ini juga dikaitkan dengan situasi politik menjelang peringatan May Day, di mana biasanya berbagai elemen buruh menyuarakan tuntutan seperti kenaikan upah minimum, perbaikan kondisi kerja, hingga revisi undang-undang ketenagakerjaan .

Profil Singkat Jumhur Hidayat

Jumhur Hidayat lahir di Bandung, 18 Februari 1968 . Ia dikenal sebagai aktivis yang sudah lama berkecimpung dalam gerakan perjuangan rakyat dan buruh . Semasa kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB), ia aktif memimpin demonstrasi menentang kebijakan yang dianggap tidak adil, yang bahkan membuatnya dipenjara selama tiga tahun pada periode 1989-1992 .

Setelah reformasi, kariernya terus menanjak. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) pada era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2007-2014) . Kiprahnya di dunia politik juga tercatat, pernah mendukung berbagai tokoh nasional hingga akhirnya mendukung Prabowo Subianto dalam Pilpres 2019 .

Sampai saat ini, belum ada pernyataan resmi dari Istana Kepresidenan maupun pihak terkait mengenai tujuan pelantikan tersebut, termasuk kaitannya dengan peringatan May Day. Namun, dinamika politik yang terjadi menjelang tanggal tersebut membuat banyak pihak menaruh perhatian besar terhadap langkah pemerintah ini.