BEKASI – Kecelakaan serius terjadi pada Senin malam, 27 April 2026, sekitar pukul 20.52 WIB di jalur emplasemen Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat. Insiden ini melibatkan Kereta Api Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi dengan KRL Commuter Line relasi Kampung Bandan–Cikarang. Berdasarkan keterangan resmi PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan keterangan saksi mata, berikut kronologi lengkap kejadiannya:

Awal Kejadian

Sekitar pukul 20.35 WIB, KRL Commuter Line yang melaju dari arah Jakarta menuju Cikarang mengalami gangguan perjalanan. Saat melewati Jalur Perlintasan Langsung (JPL) 85 di kawasan Bulak Kapal, satu unit taksi listrik berwarna hijau melintas secara sembarangan dan tertabrak bagian depan rangkaian KRL tersebut.

Akibat insiden itu, sistem keamanan perkeretaapian otomatis aktif, membuat KRL berhenti mendadak dan berakhir terhenti di jalur 1 Stasiun Bekasi Timur. Kondisi ini juga menyebabkan sinyal perjalanan di jalur yang sama berubah menjadi tanda bahaya untuk kereta yang berada di belakangnya.

Terjadi Tabrakan

Di saat yang bersamaan, KA Argo Bromo Anggrek melaju di jalur yang sama dari arah Jakarta menuju arah timur. Meski sudah mendapat peringatan, petugas masinis menyatakan bahwa jarak antara kedua kereta terlalu dekat dan kecepatan yang sedang dijalankan tidak memungkinkan untuk melakukan pengereman mendadak secara sempurna.

Sekitar pukul 20.52 WIB, lokomotif KA Argo Bromo Anggrek akhirnya menabrak bagian belakang rangkaian KRL yang sedang berhenti. Hantaman cukup keras hingga menyebabkan gerbong paling belakang KRL penyok parah dan rangkaian terdorong beberapa meter ke depan. Suara benturan terdengar keras hingga ke area pemukiman warga di sekitar stasiun.

Kondisi Saat Kejadian

Suasana seketika menjadi kacau. Lampu penerangan di dalam kedua rangkaian kereta padam seketika akibat gangguan aliran listrik. Penumpang berteriak panik dan berhamburan keluar dari gerbong menuju peron dengan bantuan petugas keamanan dan warga sekitar. Sebagian penumpang terjepit di antara badan gerbong yang penyok dan harus dikeluarkan dengan alat bantu penyelamat.

Hingga dini hari, tercatat sebanyak 4 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka, mulai dari luka ringan hingga berat. Para korban segera dilarikan ke sejumlah rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.

Tindak Lanjut

Manajemen KAI langsung menurunkan tim penanganan darurat ke lokasi. Aliran listrik di jalur kereta dimatikan demi keamanan proses evakuasi dan pembersihan jalur. Akibat kejadian ini, perjalanan kereta api lintas utara Jawa sempat terhenti total selama beberapa jam dan baru dapat dilalui kembali secara terbatas mulai pukul 03.00 WIB dini hari.

Pihak Kepolisian dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah turun ke lokasi untuk melakukan penyelidikan mendalam guna mengetahui penyebab pasti insiden, termasuk apakah ada kelalaian manusia atau gangguan teknis yang menjadi pemicunya.

Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menyampaikan permohonan maaf atas kejadian ini dan memastikan seluruh biaya perawatan korban akan ditanggung oleh perusahaan. “Kami berkomitmen menyelesaikan proses penyelidikan secepatnya agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” ujarnya.