RADAR24.co.id — Kesejahteraan guru mengaji dan tenaga pengajar Taman Pendidikan Alquran (TPA) menjadi salah satu aspirasi utama yang mencuat dalam kegiatan reses Anggota DPR Aceh, Tati Meutia Asmara, S.KH., M.Si, yang berlangsung di Aula Bapelkes Aceh, Banda Aceh, Minggu (31/5/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri puluhan peserta yang terdiri dari guru mengaji, pengelola TPA, tokoh masyarakat, serta perwakilan lembaga pendidikan keagamaan dari berbagai wilayah di Aceh. Dalam forum dialog itu, para peserta menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi tenaga pendidikan Alquran, terutama terkait kesejahteraan dan minimnya dukungan pemerintah.
Sejumlah guru mengaji mengaku masih menerima insentif yang sangat terbatas, bahkan sebagian besar menjalankan tugas mengajar secara sukarela demi menjaga keberlangsungan pendidikan Alquran bagi generasi muda.
Mereka berharap Pemerintah Aceh dapat menghadirkan kebijakan yang lebih berpihak kepada guru mengaji dan tenaga pengajar TPA yang selama ini berperan penting dalam membangun karakter dan akhlak anak-anak.
“Kami berharap ada perhatian yang lebih serius dari pemerintah terhadap guru-guru mengaji dan tenaga pengajar TPA. Selama ini kami menjalankan tugas dengan penuh keikhlasan, namun kebutuhan hidup juga harus menjadi perhatian,” ungkap salah seorang peserta dalam sesi dialog.
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Tati Meutia Asmara menyatakan bahwa keberadaan guru mengaji dan tenaga pengajar TPA memiliki peran strategis dalam membentuk generasi Aceh yang berakhlakul karimah dan memahami nilai-nilai keislaman sejak usia dini.
Menurutnya, kontribusi guru mengaji tidak hanya sebatas mengajarkan baca tulis Alquran, tetapi juga menanamkan nilai moral dan karakter kepada anak-anak yang menjadi fondasi penting bagi masa depan daerah.
“Guru mengaji dan tenaga pengajar TPA merupakan garda terdepan dalam pendidikan keagamaan masyarakat. Mereka memiliki peran besar dalam membentuk generasi yang berakhlak dan berlandaskan nilai-nilai Islam. Karena itu, aspirasi terkait peningkatan kesejahteraan mereka perlu menjadi perhatian bersama,” ujar Tati.
Politisi yang juga menjabat sebagai Presidium Kaukus Parlemen Hijau Daerah (KPHD) itu menegaskan seluruh masukan yang disampaikan masyarakat akan dicatat dan diperjuangkan melalui mekanisme yang ada di DPR Aceh.
Ia menilai perhatian terhadap guru mengaji dan tenaga pendidikan Alquran merupakan bagian dari upaya memperkuat pembangunan sumber daya manusia Aceh yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki fondasi spiritual yang kuat.
“Insya Allah berbagai aspirasi yang disampaikan hari ini akan kami bawa dan perjuangkan sesuai kewenangan yang ada. Kita berharap pemerintah dapat memberikan perhatian yang lebih baik terhadap kesejahteraan guru mengaji dan tenaga pengajar TPA di seluruh Aceh,” katanya.
Reses tersebut berlangsung interaktif dengan berbagai masukan dari peserta. Selain persoalan kesejahteraan, sejumlah peserta juga mengusulkan peningkatan program pembinaan, pelatihan kompetensi, serta dukungan sarana dan prasarana bagi TPA agar proses pendidikan Alquran dapat berjalan lebih optimal.
Melalui kegiatan reses itu, masyarakat berharap suara para guru mengaji dan tenaga pengajar TPA dapat menjadi perhatian pemerintah, sehingga keberadaan mereka sebagai pilar pendidikan keagamaan di Aceh memperoleh dukungan yang lebih layak dan berkelanjutan.



