Oleh: Raihanun Nisa’ul Khoir (Mahasiswa Prodi Tadris Matematika di UIN jurai Siwo Lampung)

Fenomena penurunan kondisi mental dan intelektual akibat konsumsi konten media sosial secara berlebihan atau brain rot kini kian mengintai masyarakat Indonesia di tengah melonjaknya angka pengguna media sosial digital. Istilah ini resmi menjadi sorotan global setelah Oxford University Press menetapkannya sebagai Word of the Year 2024 seiring meningkatnya kekhawatiran atas kebiasaan scrolling tanpa henti.

Apa Itu Brain Rot?

Pernahkah Anda tanpa sadar membuka media sosial tanpa tujuan yang jelas atau merasa gelisah saat berhenti mengoperasikan ponsel? Jika iya, bisa jadi Anda sedang mengalami brain rot.

Dikutip dari Oxford University Press, “brainrot” didefinisikan sebagai kemunduran kondisi mental atau intelektual akibat konsumsi berlebihan terhadap materi yang remeh atau tidak bermutu, terutama di dunia daring. Istilah ini mencatatkan peningkatan penggunaan sebesar 230% dari tahun 2023 hingga 2024, terutama di kalangan Gen Z dan Gen Alpha.

high-frequency repetition serta konten berdurasi singkat membuat otak terus-menerus menuntut rangsangan dopamin instan. Akibatnya, kemampuan konsentrasi dan daya ingat rentan mengalami penurunan.

Dampak pada Pengguna di Indonesia

Besarnya jumlah pengguna media sosial di Indonesia berbanding lurus dengan ancaman negatif yang mengintai kesehatan mental. Tanpa pemilahan konten yang selektif, kebiasaan mengonsumsi informasi yang dangkal secara terus-menerus dapat memicu kelelahan kognitif.

Para ahli menekankan pentingnya kesadaran digital (digital awareness) agar masyarakat tidak terjebak dalam pola konsumsi media yang merusak fokus belajar maupun produktivitas harian.

“Konsumsi konten nirbobot yang berulang membuat otak terbiasa dengan stimulasi instan. Dampak jangka panjangnya adalah penurunan rentang perhatian (attention span) dan kesulitan dalam berpikir kritis,” ujar seorang pakar psikologi pendidikan.

Menjaga kesehatan mental di era banjir informasi memerlukan kedisiplinan dalam mengatur batas konsumsi media sosial. Mengambil kendali atas apa yang kita lihat di layar ponsel adalah langkah awal untuk melindungi fungsi otak dan produktivitas kita.