RADAR24.co.id — Gubernur Aceh, Muzakir Manaf alias Mualem, menegaskan sikapnya agar komoditas gas bumi yang bersumber dari Wilayah Kerja (WK) South Andaman tidak langsung dialirkan keluar dari Bumi Serambi Mekkah. Ia mendesak pemerintah pusat agar pengelolaan ladang gas raksasa di perairan Andaman tersebut memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat lokal.

Mualem mengingatkan agar Aceh tidak mengulangi memori kelam masa lalu, saat daerah tersebut hanya menjadi “penonton” di tengah eksploitasi mega proyek ladang gas Arun di Aceh Utara pada era Orde Baru.

“Kita sudah tahu dulu bagaimana Gas Arun. Masa Soeharto dulu, kita jadi penonton terbaik,” kata Mualem saat menerima kunjungan silaturahmi pendiri HIPMI, Abdul Latief, beserta sejumlah tokoh Aceh di Meuligo Gubernur Aceh, Jumat, 29 Mei 2026. Rekaman pertemuan ini diunggah melalui akun media sosial pribadinya pada Senin, 1 Juni 2026.

Mualem mengkritik rencana pembangunan infrastruktur pipa gas yang dirancang langsung menuju pusat. Menurutnya, jika skema tersebut berjalan tanpa adanya hilirisasi di dalam daerah, Aceh berpotensi kehilangan momentum pertumbuhan ekonomi.

“Nyan pipa yang dipeuget ue Jakarta, tanyoe ka hana le sapeu meuteumeng enteuk. (Pipa gas yang dibangun itu tersambung hingga ke Jakarta, kita enggak mendapat apa-apa nanti),” ujar mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tersebut.

Mualem mengakui bahwa Pemerintah Aceh tidak bisa berjalan sendiri dalam menghadapi skala proyek yang masif ini. Oleh sebab itu, ia berharap pemerintah pusat dan para pemangku kepentingan (stakeholders) bersedia merumuskan konsep pembangunan yang menahan sebagian volume gas untuk diolah di daratan Aceh.

“Saya dengan Wali (Wakil Gubernur) tidak sanggup, karena di situ kan ada yang lebih besar lagi. Minimal bagaimana agar mereka meninggalkan (porsi untuk diolah) gas di Aceh, supaya jangan dibawa semua,” tutur Mualem.

Menurutnya, keberadaan fasilitas pengolahan dan industri turunan gas di daratan Aceh sangat krusial untuk membuka lapangan kerja baru bagi generasi muda di Tanah Rencong. Ia membayangkan reaktivasi kawasan industri terpadu untuk menampung komoditas tersebut.