RADAR24.co.id — Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah tengah mengevaluasi pelaksanaan pelatihan dalam program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) setelah tiga peserta calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) meninggal dunia saat menjalani latihan dasar kemiliteran (latsarmil).
Prasetyo, saat menjawab pertanyaan wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat, mengatakan evaluasi dilakukan terhadap seluruh prosedur pelatihan yang dijalani para calon pengelola KDMP dan KNMP.
“Pertama, tentu kita menyampaikan keprihatinan dan dukacita mendalam. Tapi, mari kita terus memperbaiki dan memonitor semua proses yang berjalan,” kata Prasetyo.
Saat ditanya mengenai kemungkinan keterkaitan antara pelatihan dan meninggalnya tiga peserta tersebut, Prasetyo mengatakan hal itu masih perlu didalami karena masing-masing peserta juga berpotensi memiliki riwayat kondisi kesehatan tertentu.
Terkait pelatihan yang diikuti calon manajer KDMP dan pengelola KNMP, Prasetyo menegaskan bahwa program tersebut tidak hanya mencakup latihan dasar kemiliteran, tetapi juga pelatihan kompetensi yang dibutuhkan untuk menjalankan tugas mereka.
“Itu kan bagian dari proses pelatihan. Nanti kalau mengenai kompetensinya tetap ada juga materinya,” ujarnya.
Sebelumnya, Kementerian Pertahanan (Kemhan) pada Selasa (23/6) mengonfirmasi dua peserta program SPPI KDMP dan KNMP meninggal dunia saat menjalani latsarmil, yakni Anisa Muyassaroh dan Yonanda Muhammad Taufiq.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait mengatakan Anisa, yang mengikuti pendidikan di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman Balikpapan, meninggal dunia akibat serangan panas (heat stroke).
Sementara itu, Yonanda yang mengikuti pendidikan di Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja meninggal dunia setelah mengalami penurunan kondisi fisik pada Senin (15/6) dan sempat menjalani perawatan di rumah sakit.
Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, Yonanda dinyatakan meninggal dunia akibat henti jantung.
Selain itu, pada Rabu (24/6), Kemhan juga mengumumkan Novia Rahmadhani Sihotang meninggal dunia. Ia merupakan peserta Program SPPI KNMP 2026 yang mengikuti pendidikan di Satdik Pusbahasa Kodiklatau Jakarta.
Rico menjelaskan Novia mengalami gangguan kesehatan saat menjalani latsarmil pada Senin (22/6). Ia kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Angkatan Udara Dr. Esnawan Antariksa untuk mendapatkan penanganan medis. Kondisinya terus menurun hingga akhirnya meninggal dunia pada Selasa (23/6).



