JAKARTA – Setelah ramai dugaan keracunan MBG di berbagai daerah, BGN tidak hanya menindak. Mereka juga membuka data.
Lewat platform Radar MBG, masyarakat kini bisa melihat sekolah mana yang menerima MBG, apa menunya hari ini, berapa kandungan gizinya, siapa SPPG yang masak, sampai dokumentasi makanannya.
Langkah ini penting karena selama ini informasi MBG tertutup. Akibatnya, setiap ada kabar siswa sakit setelah makan, langsung viral tanpa konteks.
“Data resmi harus dibedakan dari laporan awal, hasil medis, dan hasil uji sampel,” kata pihak BGN. Faktor penyebab gangguan kesehatan juga bisa beragam, tidak bisa langsung digabung jadi angka nasional.
Selain transparansi, BGN juga menutup sekitar 1.300 SPPG yang tidak memenuhi syarat dalam 3 minggu terakhir. Prinsip yang dipakai: semua SPPG wajib sama standarnya, mau dikelola siapa pun.
Ke depan, BGN akan uji coba test kit di dapur sebagai pemeriksaan awal. Ditambah pengawasan ketat terhadap waktu masak-distribusi-konsumsi untuk cegah pertumbuhan bakteri.
Menariknya, saat gempa NTT 15 Agustus 2026, SPPG di sekitar lokasi juga diminta siaga jadi dapur umum. Jadi fungsinya ganda: untuk program rutin dan untuk darurat.
Intinya, MBG harus terus dievaluasi. Tapi evaluasinya pakai data, bukan hanya screenshot. Karena tujuan akhirnya satu: makanan yang diterima siswa aman, bergizi, dan tepat waktu.*


