RADAR24.co.id — Puluhan emak-emak yang tergabung dalam kelompok masyarakat sipil Suara Ibu Indonesia menggelar aksi damai bertajuk “Jalan Sore Pukul Panci” di Yogyakarta, Selasa (8/9/2026) sore.

Aksi tersebut digelar untuk memperingati satu tahun gerakan “Pukul Panci” yang sebelumnya dilakukan sebagai bentuk protes terhadap persoalan keamanan pangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Para peserta berjalan kaki dari kawasan Tugu Golong Gilig atau Tugu Yogyakarta menuju Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM). Sepanjang perjalanan, mereka menabuh berbagai peralatan dapur, terutama panci, sembari membawa poster dan menyampaikan orasi.

Kalis Maradiasih, mewakili Suara Ibu Indonesia Yogyakarta, mengatakan aksi tersebut merupakan pengingat bahwa persoalan yang mereka soroti sejak setahun lalu dinilai belum terselesaikan.

“Pada sore hari ini kami kembali berkumpul untuk melakukan kegiatan jalan sehat dari Tugu Jogja ke Bundaran UGM dalam rangka memperingati setahun pertama kali Suara Ibu Indonesia melakukan gerakan pukul panci,” kata Kalis.

Ia menyebut, ketika gerakan tersebut pertama kali dilakukan setahun lalu, mereka merespons kejadian keracunan massal yang saat itu terjadi di Bandung Barat dengan jumlah korban yang disebut mencapai sekitar 3.000 pelajar.

Menurut Kalis, berdasarkan data yang mereka himpun, jumlah korban gangguan kesehatan yang dikaitkan dengan program MBG kini telah mencapai lebih dari 43.000 orang.

“Jika satu tahun lalu kami berdiri di Yogyakarta untuk merespons kondisi luar biasa atau KLB di Bandung Barat ketika itu korban keracunan massal makan bergizi yang tidak gratis itu mencapai jumlah 3.000 pelajar. Dan sore hari ini ternyata setelah satu tahun angka korban sudah mencapai 43.000 pelajar lebih dan juga termasuk korban ibu dan anak-anak,” ujarnya.

Kalis menilai kondisi tersebut menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola program MBG. Ia menyebut pihaknya telah menyampaikan masukan agar keselamatan anak menjadi pertimbangan utama dalam pelaksanaan program tersebut.

“Ini membuktikan bahwa pengelola negara dan yang memiliki mandat kekuasaan untuk bertanggung jawab atas program prioritas ini sama sekali tidak mendengarkan masukan-masukan dari ilmuwan dan juga para ahli dan juga dari masyarakat yang menginginkan negara untuk berpihak kepada anak. Satu prinsip saja yaitu berpihak kepada anak,” tegasnya.

Ia juga mengkritik langkah pemerintah yang menurutnya lebih banyak melakukan pergantian pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN), sementara persoalan mendasar dalam desain dan tata kelola program dinilai belum dibenahi.

“Yang dilakukan negara hanya bongkar pasang kepala BGN. Ada yang tersangka mega korupsi, kemudian diganti lagi, kemudian diganti lagi,” katanya.

Menurutnya, kelompok masyarakat sipil yang mereka wakili menginginkan adanya penghentian sementara program untuk kemudian dilakukan evaluasi dan perombakan tata kelola secara menyeluruh.

“Tetapi pengelola negara sama sekali tidak mendengarkan para ilmuwan yang mengatakan bahwa stop dulu program ini, rombak total desain tata kelolanya, dan dengan cara itu anak-anak baru akan selamat, aman,” lanjut Kalis.

Kalis menjelaskan, bunyi panci yang terus ditabuh dalam aksi tersebut bukan sekadar bagian dari kegiatan jalan kaki. Peralatan dapur dipilih sebagai simbol suara para ibu yang keluar dari ruang domestik untuk menyampaikan keresahan kepada pemerintah.

“Ini adalah simbol yang sangat darurat ketika para ibu telah keluar dari rumah mereka membawa alat-alat domestik yang biasanya dilakukan di dalam rumah, tetapi ibu-ibu hari ini sudah keluar dari rumah untuk meminta keadilan, sudah keluar dari rumah untuk meminta pengelola negara membuka kuping, membuka telinga mereka lebar-lebar,” ujarnya.

Ia bahkan menyampaikan kritik dengan nada satire terhadap pemerintah yang dinilai belum cukup mendengarkan keresahan masyarakat.

“Ini kalau sudah dipukulin kayak gini telinganya tetap enggak dengar, fix enggak punya malu,” kata Kalis.

Selain persoalan MBG, aksi tersebut juga merespons berbagai bencana ekologis yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Kalis menyebut bencana di Sumatera, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Papua Pegunungan dan sejumlah daerah lainnya.

Ia menilai negara seharusnya menempatkan keselamatan dan kehidupan masyarakat sebagai prioritas utama dalam menentukan kebijakan anggaran.

“Padahal ketika kita bicara soal prioritas harusnya yang diprioritaskan oleh negara adalah kehidupan, adalah merawat kehidupan ini yaitu mereka yang paling rentan, yaitu mereka yang hari ini terdampak bencana di berbagai wilayah,” tuturnya.

Dalam aksi tersebut, Suara Ibu Indonesia juga menyuarakan penolakan terhadap penggunaan kekerasan maupun intimidasi terhadap masyarakat sipil yang menyampaikan kritik.

Kalis mengatakan salah satu tuntutan yang akan disampaikan dalam aksi di Bundaran UGM adalah agar pemerintah tidak menggunakan aparatus kekerasan untuk membatasi ekspresi warga.

“Memohon para pengelola negara menyetop penggunaan aparatus kekerasan untuk membatasi ekspresi masyarakat, membatasi ekspresi warga negara yang menyampaikan kekhawatiran yang berpihak kepada anak dan resah akan nasib anak-anak,” katanya.

Ia juga meminta pemerintah tidak menempatkan rakyat sebagai pihak yang berhadapan dengan negara hanya karena menyampaikan kritik.

“Berhenti untuk menjadikan rakyat sebagai musuh karena kalian bekerja dengan uang pajak rakyat. Jadi, jangan merasa bahwa kalian punya kekuasaan dan justru menempatkan konflik horizontal antar rakyat,” tegasnya.

Kalis menyebut peserta aksi berasal dari latar belakang yang beragam. Mayoritas merupakan ibu-ibu dari Suara Ibu Indonesia, dengan tambahan solidaritas dari warga Yogyakarta dan sekitarnya.

“Saya 34 tahun, ibu dari satu anak,” ujar Kalis saat memperkenalkan diri.

Dalam pernyataan sikapnya, Suara Ibu Indonesia menyampaikan tiga tuntutan utama.

Pertama, mereka mendesak penghentian program MBG dan pengalihan anggarannya untuk mitigasi serta penanganan bencana. Mereka juga meminta pendidikan dan kesehatan tetap menjadi sektor prioritas dalam alokasi anggaran negara.

Kedua, mereka meminta segala bentuk kekerasan dan intimidasi terhadap masyarakat sipil dihentikan. Warga yang menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah, termasuk terkait kasus keracunan MBG, dinilai harus mendapatkan jaminan keselamatan.

Ketiga, mereka menolak segala bentuk upaya membenturkan masyarakat melalui konflik horizontal sebagai cara meredam kritik dan protes.

Dalam pernyataan sikap tersebut, Suara Ibu Indonesia menyatakan ingin mempertahankan gerakan warga yang damai dan tertib untuk mendorong pertanggungjawaban negara atas berbagai kasus keracunan yang mereka kaitkan dengan program MBG.

Aksi “Jalan Sore Pukul Panci” berlangsung dengan berjalan kaki dari Tugu Golong Gilig menuju Bundaran UGM, disertai orasi, poster aksi, serta bunyi-bunyian panci dan peralatan dapur sebagai simbol protes.

Selengkapnya baca disini