RADAR24.co.id — Sekretaris Jenderal Projo Freddy Alex Damanik dalam pernyataannya terkait relawan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) yang merespons julukan “termul” pada Jumat, 24 April 2026, menjelaskan bahwa para relawan tetap bangga dengan istilah tersebut meski bermakna sindiran yang berkembang di media sosial di Jakarta.

Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa dukungan relawan Projo diberikan berdasarkan kesesuaian ide dan visi. Sekretaris Jenderal Projo, Freddy Alex Damanik, merespons munculnya istilah “termul” yang belakangan ramai diperbincangkan di ruang publik.

Istilah tersebut merupakan singkatan dari “ternak mulyono” yang muncul sebagai bentuk sindiran terhadap para pendukung Jokowi, di mana Mulyono sendiri merupakan nama kecil dari Presiden ke-7 RI tersebut. Dalam pernyataannya, Freddy menegaskan bahwa relawan justru tidak merasa terganggu dengan sebutan itu.

Ia bahkan menyebut para relawan tetap percaya diri dengan pilihan politik mereka selama didasarkan pada gagasan dan arah kebijakan yang dinilai sesuai.

“Termul-termul itu bangga disebut termul. Abang percaya nggak? Kalau saya bangga disebut sebagai orang Indonesia yang mendukung ide,” kata Freddy.

Ia menambahkan bahwa sikap relawan tidak berorientasi pada individu semata, melainkan pada kesesuaian visi yang dianggap membawa manfaat bagi masyarakat.

Freddy Alex Damanik menegaskan bahwa prinsip utama yang dipegang Projo adalah mendukung ide dan gagasan, bukan sekadar figur. Dalam pandangannya, kesesuaian visi menjadi faktor utama yang menentukan arah dukungan politik relawan.

“Kalau idenya cocok, visinya cocok, saya dukung. Bukan orang yang saya dukung,” ujarnya menegaskan sikap organisasi relawan tersebut.

Menurutnya, pendekatan berbasis gagasan dianggap lebih relevan dalam konteks dinamika politik saat ini, di mana kebijakan publik menjadi fokus utama dibandingkan personalisasi figur. Ia juga menekankan bahwa klaim tersebut menjadi alasan mengapa relawan tetap solid meskipun berbagai istilah atau persepsi muncul di ruang publik.

Dalam kesempatan yang sama, Freddy juga menyinggung bahwa Projo tidak pernah terlibat dalam tindakan menyerang tokoh lain, termasuk Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK). Ia menegaskan bahwa relawan Jokowi tetap menjaga etika dalam berpolitik.

“Relawannya Pak Jokowi yang terkonsolidasi dari dulu itu tidak ada pernah melakukan apa terhadap Pak JK. Jadi relawan tidak menyerang Pak JK,” ucapnya.

Pernyataan tersebut muncul di tengah mencuatnya sejumlah polemik politik yang melibatkan berbagai tokoh nasional, termasuk isu yang beredar di ruang publik terkait hubungan antarfigur politik.

Freddy menegaskan bahwa sikap Projo tetap berfokus pada dukungan terhadap program dan gagasan, bukan pada konflik personal antar tokoh. Selain menanggapi isu “termul”,

Freddy juga memberikan respons terkait permintaan Jusuf Kalla agar Presiden Jokowi memperlihatkan ijazah aslinya. Ia menyebut bahwa persoalan tersebut sudah masuk dalam ranah hukum dan ditangani aparat penegak hukum.

“Keluarlah statement Pak JK di Bareskrim bahwa tunjukkan saja ijazahnya Pak Jokowi itu. Sementara ini sudah menjadi persoalan hukum yang sudah dilaporkan delik aduan,” jelasnya.

Menurut Freddy, karena kasus tersebut sudah ditangani secara hukum, maka prosesnya perlu dihormati sesuai mekanisme yang berlaku. Ia menilai hal itu penting untuk menjaga agar isu tidak berkembang menjadi polemik yang lebih luas di masyarakat.