RADAR24.co.id — Kabupaten Bener Meriah, Aceh, dikenal sebagai salah satu lumbung pangan dan pusat pertanian utama. Wilayah ini tak hanya terkenal dengan kopi Arabika sebagai komoditas unggulan ekspor, tetapi juga menjadi pusat pengembangan tanaman hortikultura dan palawija. Sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup dari sektor pertanian, termasuk seorang pemuda yang kini dikenal luas sebagai Herry Palawija.

Lahir di Ujung Gele pada tahun 1991, Herry masuk dalam kelompok generasi milenial yang kini berada di usia paling produktif dan memegang peran penting dalam kemajuan daerah. Sebelum menapaki jalan usahanya, ia pernah bekerja sebagai tenaga honorer di instansi pemerintah. Ia bahkan sempat memiliki cita‑cita menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja, namun akhirnya memutuskan mengubur keinginan itu sepenuhnya untuk menekuni dunia pertanian dan menjadi pengusaha di bidang tersebut.

Kesuksesan Menanam Daun Bawang hingga Kentang

Kisah keberhasilannya bermula dari pengembangan budidaya daun bawang. Saat itu, banyak orang menganggap tanaman ini sepele dan kurang bernilai. Namun saat panen tiba, Herry berhasil memanen beberapa ton hasil panen dan meraup pendapatan yang sangat menjanjikan. Keberhasilan itu membuat masyarakat terkejut serta memberikan penghargaan atas ketekunannya.

Hingga kini, penanaman daun bawang terus berlanjut di berbagai lokasi lahan yang dikelolanya. Ia kemudian memperluas usaha ke budidaya kentang, dengan kebutuhan benih yang mencapai puluhan ton setiap musimnya. Saat ini, kedua jenis tanaman itu menjadi komoditas utama yang dikembangkan di lahannya.

Usahanya telah menyerap tenaga kerja setempat, sebagian besar adalah pemuda di sekitar wilayah tersebut. Tak sekadar memberi pekerjaan, Herry juga membagikan ilmu bertani serta memotivasi rekan‑rekannya. Ia kerap menegaskan: “Jangan merasa malu atau sungkan menjadi petani. Kita harus percaya diri, karena dari pertanian pun kita bisa meraih penghasilan yang layak. Kita harus bangga dan tak segan menjalani profesi ini.”

Lebih dari itu, Herry kerap memberikan bantuan modal kepada pemuda yang ingin merintis usaha pertanian secara mandiri. Prinsip yang dipegang teguhnya adalah kesuksesan harus diraih bersama, bukan hanya dinikmati seorang diri.

Mengembangkan Usaha Perdagangan Hasil Pertanian

Setelah kokoh sebagai petani, Herry mulai melebarkan sayap ke usaha perdagangan dan pengiriman hasil pertanian. Ia kini memiliki jasa pengangkutan sendiri dan memasok sayuran ke berbagai wilayah di Aceh, antara lain Lhokseumawe, Banda Aceh, dan Bireuen. Barang yang dikirimkan bukan hanya berasal dari lahannya sendiri, melainkan juga dibeli langsung dari petani sekitar untuk membantu memasarkan hasil panen mereka.

Semangat dan fokusnya terhadap dunia pertanian tetap tak tergoyahkan. Ia meyakini profesi petani milenial memiliki prospek pertumbuhan yang sangat luas. Melalui kerja nyatanya, ia berhasil mematahkan pandangan keliru yang menyatakan bahwa bertani adalah pekerjaan dengan kedudukan paling rendah dibanding profesi lain. Baginya, anggapan itu sepenuhnya tidak benar dan terbantahkan lewat kesuksesan yang telah ia raih.