BONTANG- Sejumlah penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis di Bontang, Kalimantan Timur, mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap menu yang disalurkan. Peristiwa ini memicu diskusi publik, termasuk terkait penggunaan kemiri sebagai pengganti santan.
Dalam klarifikasi pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi SPPG Bontang Utara 2, kemiri memang dipakai sekitar 10 kilogram untuk 2.036 porsi gulai sayur. Penggunaan bahan itu kini masuk catatan evaluasi internal.
Namun hasil uji laboratorium dari Dinas Kesehatan Bontang menunjukkan hal lain. Sampel makanan yang diperiksa mengandung bakteri patogen pada dua menu, yaitu ayam serundeng dan gulai sayur. Temuan ini membuat dugaan penyebab tidak bisa hanya tertuju pada satu bahan.
27 Orang Laporkan Keluhan
Data sementara mencatat 27 orang mengalami gangguan kesehatan. Rinciannya 14 siswa, 11 guru, dan 2 wali murid.
Setelah menerima laporan, Dinkes Bontang langsung mengambil sampel makanan dari dapur SPPG Bontang Utara 2 untuk diuji. Hasilnya yang menjadi dasar langkah lanjutan investigasi.
Dengan adanya bakteri patogen, proses penelusuran tidak berhenti pada daftar bahan. Tim perlu memeriksa seluruh rantai, mulai dari penerimaan bahan baku, pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi.
Kemiri Masuk Evaluasi, Bukan Bukti Penyebab
Penggunaan kemiri sebagai pengganti santan memang benar terjadi dan sudah diakui pengelola. Jumlahnya cukup besar karena menyesuaikan kebutuhan porsi.
Akan tetapi secara ilmiah, keberadaan satu bahan belum bisa disimpulkan sebagai penyebab tunggal. Apalagi hasil lab sudah menemukan bakteri pada makanan jadi.
Dengan kata lain, penggunaan kemiri menjadi bagian evaluasi menu dan standar resep. Sementara sumber kontaminasi bakteri masih ditelusuri lebih lanjut.
Dua Kepala SPPG Dicopot, Dapur Dihentikan Sementara
Pemerintah Kota Bontang mengambil langkah cepat secara administratif. Dua kepala SPPG dicopot dari jabatannya. Operasional dapur yang terkait kasus juga dihentikan sementara waktu.
Langkah ini bertujuan agar proses investigasi berjalan tanpa risiko tambahan. Perlu dicatat, tindakan administratif tidak sama dengan vonis penyebab kejadian. Keduanya berjalan di jalur berbeda.
Investigasi Fokus ke Rantai Keamanan Pangan
Tim kini menelusuri seluruh tahapan keamanan pangan. Pemeriksaan mencakup kebersihan area penerimaan bahan, kondisi penyimpanan, peralatan masak, prosedur pengolahan, sampai cara pendistribusian ke sekolah.
Fokusnya adalah mencari di titik mana kontaminasi terjadi. Apakah dari bahan baku, lingkungan dapur, peralatan, atau penanganan saat porsi disajikan.
Pemkot Lakukan Audit dan Sidak ke Seluruh SPPG
Kasus ini mendorong Pemkot Bontang melakukan audit menyeluruh ke seluruh dapur SPPG. Wakil Wali Kota juga turun langsung melakukan inspeksi mendadak.
Dari sidak ditemukan beberapa catatan teknis. Area penerimaan bahan baku dinilai sempit. Penyimpanan bahan kering juga diminta agar lebih tertutup dan rapi.
Catatan-catatan itu akan dipakai untuk memperkuat SOP agar standar keamanan pangan diterapkan konsisten di semua titik layanan.
Program MBG Jalan Terus dengan Pengawasan Ketat
Meski ada kejadian, program MBG di Bontang tetap berjalan. Hanya saja dengan pengawasan yang diperketat.
Rangkaian tindak lanjut meliputi pencopotan pengelola, penghentian sementara dapur terkait, uji lab, evaluasi menu, perbaikan SOP, dan audit ke semua SPPG.
Kasus ini mengingatkan pentingnya memisahkan tiga hal: penggunaan kemiri, adanya keluhan kesehatan, dan hasil pemeriksaan laboratorium. Ketiganya punya tempat berbeda dalam proses evaluasi.
Selama investigasi belum selesai, menyimpulkan kemiri sebagai satu-satunya penyebab keracunan MBG Bontang belum tepat. Titik kontaminasi masih dicari melalui pemeriksaan menyeluruh.*



