RADAR24.co.id —  Nilai tukar rupiah yang terus merosot hingga menembus angka Rp17.600 per Dolar AS memicu kritik keras dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Primus Yustisio, secara tegas meminta Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengundurkan diri dari jabatannya. Permintaan ini disampaikan langsung dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR bersama pimpinan BI di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026).

Primus menilai, kondisi ekonomi saat ini menunjukkan kejanggalan. Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat cukup baik mencapai 5,61 persen, namun di sisi lain nilai tukar rupiah justru jatuh bebas hingga ke titik terendah sepanjang sejarah. Pelemahan ini pun tidak hanya terjadi terhadap Dolar AS, melainkan terhadap hampir seluruh mata uang dunia, mulai dari Dolar Singapura, Dolar Australia, Ringgit Malaysia, hingga Euro .

“Itu sebuah anomali. Pertumbuhan ekonomi kita 5,61 persen, bagus. Tapi nilai tukar kita jeblok, bahkan sekarang ada di level rekor terendah terhadap Dolar. Faktanya dan ironisnya, kita melemah terhadap semua mata uang. Ini menunjukkan Bank Indonesia sudah kehilangan kepercayaan dan mengenyampingkan kredibilitasnya,” tegas Primus dalam rapat tersebut .

Politikus ini menegaskan, sebagai pemimpin tertinggi otoritas moneter, Gubernur BI wajib bertanggung jawab atas kegagalan menjaga stabilitas mata uang negara. Menurutnya, langkah terbaik dan terhormat saat ini adalah mundur, sebagaimana budaya tanggung jawab pemimpin di negara maju seperti Jepang atau Korea Selatan.

“Pak Perry yang saya hormati, kadang tindakan gentleman itu bukan penghinaan. Saya berikan contoh, mungkin saatnya Bapak mengundurkan diri. Selanjutnya terserah Bapak dan Dewan. Tapi percayalah, Anda akan lebih dihormati jika berani bertanggung jawab seperti itu. Tidak ada salahnya mundur demi kehormatan lembaga,” ujarnya menegaskan .

Selain kurs, Primus juga menyoroti kinerja pasar modal Indonesia yang masih tertekan tajam hingga lebih dari 20 persen, jauh tertinggal dibandingkan pasar saham negara lain yang sudah pulih pasca gejolak konflik global. Ia menilai kebijakan yang diambil BI belum cukup efektif mengembalikan kepercayaan pasar dan investor asing.

Pihak Bank Indonesia yang dipimpin langsung Perry Warjiyo hadir dalam rapat tersebut, namun belum memberikan tanggapan resmi terkait desakan mundur ini. Gubernur BI hanya menjelaskan berbagai upaya intervensi dan kebijakan suku bunga yang sudah dilakukan, namun mengakui tekanan eksternal masih sangat kuat dan membebani rupiah.